Saturday, 14 November 2015

#4 Mencintai Bersama Proses

Awalnya saya tidak ingin mempublikasikan hubungan ini, pertama karena saya belum lama berakhir dari hubungan sebelumnya, kedua karena kami berada di jurusan yang sama, ketiga karena status kami adalah sebagai senior junior dan saya tipe orang yang paling tidak suka melibatkan senioritas dalam hubungan dan sebaliknya tidak ingin mencampurkan hubungan kedalam status senior junior itu, keempat karena ingin menutup diri dari apapun, tidak ingin mengulang masa lalu yang terlalu terbuka, selalu dilihat dan dibicarakan oleh orang banyak hingga ketika kita berakhir pun orang akan terus mencari tau dan tidak berhenti berkomentar. Saya ingin benar-benar mempunyai hubungan tanpa campur dan baik-buruknya komentar orang! Tapi kemudian saya harus mengambil langkah untuk mempublikasikan hubungan ini secara perlahan, karena ada beberapa pertimbangan salah satunya karena tidak ingin diganggu terus menerus oleh orang-orang berkelakuan liar diluar sana karena menganggap saya single. Banyak yang kaget dengan hubungan ini, tapi untunglah langkah ini ampuh dalam mengusir para pengusik kedamaian hidupku.

Semakin kesini kami semakin paham karakter pribadi masing-masing dan perlahan mulai merasa nyaman. Dia menawarkanku kebahagiaan diluar ekspetasi bahkan tidak pernah terlintas di fikiranku sebelumnya. Kebahagiaan dalam hubungan mungkin selalu ditawarkan oleh orang-orang sebelumnya, tapi dalam hubungan masa remaja usia SMA, dibawah 20 tahun, dengan gejolak yang menggebu-gebu, yang hanya mengejar status atau bahkan sekedar popularitas, tanpa kedewasaan, tanpa nilai! Sadar atau tidak, hubungan yang sebenar-benarnya baru akan dimulai ketika kita menginjak usia 20an, usia dimana kita menjalani hubungan dengan penuh pertimbangan dan tidak hanya sebatas status dan gejolak. Inilah waktu ketika usia saya tidak remaja lagi, 2 hubungan terakhir yang nyata, dimana saya mulai menetapkan pilihan tentang hubungan yang benar-benar menguras hati dan juga fikiran, menguji seberapa berani seberapa tepat dan seberapa adil terhadap diri sendiri dan orang lain dalam pengambilan keputusan. 

Dari pertimbangan diatas, ditambah dengan pertimbangan hubungan sebelumnya yang benar-benar jauh dari kata bahagia, bisa dibilang inilah hubungan paling bahagia dan paling ideal yang pernah saya jalani sejauh itu. Bagaimana tidak saya menemukan orang yang setiap malam bertanya apa jadwal besok, dan keesokkannya sudah siap di depan pagar untuk menjemput kemudian mengantar dan pulangnya pun selalu menawarkan diri untuk menjemputku secara rutin selagi bisa. Bagaimana tidak yang jika di hubungan lain kita hanya menemukan sosok pacar atau mentoknya sahabat dalam diri pasangan, saya justru diberikan orang yang didalamnya ada sosok pacar, teman merangkap sahabat, ibu, ayah kakak bahkan kakek buatku. Dan saya menganggap dia anugrah yang diberikan Tuhan untuk mengobati setiap sakit akibat luka masa lalu, yang mengganti setiap patahan hatiku dengan yang baru, yang membuat musim gugur berubah menjadi musim semi, yang membuat setiap hari serasa ingin tidur saja dan kemudian besoknya semua masalah selesai, yang selalu menjadi permen di setiap sakitku dan menjadi pelangi untuk setiap hujanku dan yang bisa mengubah hari-hari yang rasanya seperti hari Senin menjadi semenenangkan dan semenyenangkan akhir pekan. Benar kata orang, ada pelangi setelah hujan turun.

Setiap nasehat yang dia berikan sangat bemanfaat buatku, dia selalu berusaha ada tidak hanya dalam tawa tapi dalam setiap rasa. Inilah alasan mengapa saya menjadi sangat manja dan bergantung kepadanya, merasa setiap beban yang ada selalu menjadi ringan karena ada orang yang dengan senang hati tulus ikhlas menawarkan untuk menjadi solusi. Dia sadar betul bahwa hubungan kami instan hingga akhirnya dia berusaha mengukir momen yang sulit untuk dilupakan dalam hubungan kami. Dia selalu mengajakku nonton tidak hanya di akhir pekan tapi di banyak waktu kosong kami, mengajakku makan di tempat baru atau di tempat favorit, karaoke berdua, bahkan berpetualang. Dia pernah bilang bahwa dia tidak menawarkan kemewahan, hanya sebatas peristiwa tapi yakinlah bahwa peristiwalah yang akan dikenang. Benar, karena berapapun uang yang dimiliki tidak akan mampu membayar kebahagiaan seseorang. Dia selalu memberikanku reward atas bantuan yang kuberikan padanya atau ketika dia menerima rezeki lebih. Saya ingat ketika membantu skripsinya saya selalu diajak makan di restoran fast food kesukaanku setelahnya, atau dimanapun saya ingin makan. Dia menjadi manager dalam hidupku saat itu setelah Allah dan orangtua, memberikan arahan untuk menjalani setiap agenda keseharianku, memberikan solusi untuk setiap masalahku dan bahkan mengevaluasi setiap pencapaian yang saya dapat setiap harinya! Bagaimana saya tidak merasa kehilangan jika sehari saja dia tidak ada?! Bahkan ketika dia pulang kampung, saya selalu mengatakan bahwa tidak ada temanku disini, karena saat itu dialah teman terbaik yang saya miliki...

Jika dibandingkan dengan cerita dua minggu awal kami dengan cerita ini mungkin banyak yang akan heran, saya sendiri masih tidak percaya semua keadaan berubah menjadi kebahagiaan. Dari cerita ini kita bisa menyimpulkan bahwa segala sesuatu butuh proses, termasuk yang instan sekalipun. Seperti membuat mie instan, sekalipun instan tapi kita membutuhkan proses untuk bisa menyantapnya, harus memanaskan air, merebus, membuka setiap bungkusan bumbu dan mencapurnya terlebih dahulu, kita bisa menambahkan bawang, potongan cabai atau bakso kedalamnya biar rasanya lebih enak, seperti itulah hubungan kami berproses tapi justru dari proses itulah kami menjadi lebih saling memahami satu sama lain... Jadi, tidak perlu takut menjalani hubungan yang instan alias tanpa masa PDKT yang berkepanjangan bahkan ada yang sampai menahun masa PDKT nya ujung-ujungnya di PHP. Tapi ingat justru karena hubungan kita instan kita justru harus lebih berproses dan harus diawali dengan mengenal lingkungan serta masa lalunya terlebih dahulu, jadi kita bisa menentukan langkah selanjutnya bisa atau tidaknya dilanjutkan...

to be continue...

No comments:

Post a Comment