Saturday, 14 November 2015

#6 The End...Mengapa Memilih Berpisah?

...............................................................................................................

Jika dia menawarkanmu banyak kebahagiaan, lantas mengapa memilih berpisah?....

Sebahagia apapun kami saat itu, ada masa dimana hubungan itu harus dihentikan ingin atau tidak! Dan rasanya saya tidak ingin berpanjang lebar lagi karena ini bukanlah cerita kebahagiaan seperti seblumnya namun bukan juga sebuah kesakithatian yang membuatku ingin lupa tapi ada alasan dibalik ini semua. Saya tidak bida menentukan alasan ini sebagai kategori berat atau justru hal simple, tentang bagaimana kemudian kami berbeda dalam prinsip dan tujuan hidup sehingga membuat kami harus mengambil keputusan terbaik dan keputusan terbaik itu adalah berpisah. Ini bukanlah keputusan sepihak melainkan keputusan bersama... 
Bukan masalah orang ketiga, bukan masalah orangtua atau keluarga, sama sekali bukan masalah dari luar tapi dari keyakinan kami berdua untuk membuat akhir dari cerita ini. Ibarat membangun sebuah rumah tanpa pondasi seindah apapun rumah yang akan kita rancang tidak akan pernah bisa dibangun tanpa pondasi, seperti itulah kondisi kami. Saya tidak tau bagaiman ini kemudian bisa terjadi, bagaimana keyakinan saya dirubah menjadi sebuah angan yang ternyata hampir bisa dikatakan sebuah ilusi semata. 

Jika ditanya mengapa sampai detik ini saya belum memulai kembali sebuah hubungan baru, alsannya bukanlah trauma, karena jujur hubungan kemarin itu tidak pernah membuat saya trauma walaupun ada kekecewaan dalam hati terdalam. Ada yang bilang saya belum bisa move on itu salah, kalau memang itu benar saya sudah menerima tawaran untuk kembali membina hubungan dengannya, untuk kembali seperti semula, bahkan untuk beberapa kali tawaran itu saya menolaknya karena seberapa banyak pun kami menghabiskan waktu itu semua akan sia-sia. Memilih dia atau orang lain pun itu adalah keputusan saya

Saat ini apapun kondisi yang saya jalani itu adalah KEPUTUSAN MUTLAK dari diri saya pribadi, bukan atas dasar trauma atau kecewa atau apapun itu, karena masa laluku tidak memberikan pengaruh apapun dalam keputusanku sekarang.   
 

#5 Why Him?

Mungkin ada pepatah yang mengatakan "tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang" atau "cinta tidak butuh alasan", tapi entahlah mungkin lebih tepatnya ini adalah alasan mengapa saya merasa begitu bahagia dengan dia...

Seperti deskripsi saya sebelumnya, dia datang dengan menawarkanku kebahagiaan yang berlimpah. Dan jika setiap orang diibaratkan seperti koin yang mempunyai dua sisi berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan, seperti itu pula sisi yang ada pada manusia dibalik setiap negatif pasti ada sisi positif dan sebaliknya. Dalam hubungan ini bersama pria ini saya justru menemukan lebih banyak sisi positifnya daripada sisi negatifnya, walaupun tidak bisa dipungkiri dia tidaklah sempurna. Itulah alasan mengapa dia dan mengapa saya yakin dengan hubungan ini.

Salah satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah, dia membuat saya menjadi seorang wanita yang benar-benar bahagia, benar-benar dihargai seutuhnya, benar-benar diakui sepenuhnya. Berjalan bersamanya serasa dia ingin mengatakan kepada dunia bahwa inilah wanitaku! Dan wanita mana yang tidak bahagia jika berada di posisiku saat itu? 
Dia mengenalkanku kepada keluarga, om, tante, adik, kakak, sepupu, teman, bahkan ibunya, seakan dia meyakinkanku bahwa dia sosok yang bisa dijadikan sandaran dan tidak akan pernah lari dalam keadaan apapun. 

Inilah yang kemudian membuat saya benar-benar menyandarkan seluruh tubuhku disamping tubuhnya, menyerahkan setiap detail permasalahan hidupku apapun dan dengan siapapun itu kepadanya, mejadikan dia solusi atas semuanya. Dia sendiri pun sadar, bahwa dialah "teman" terbaik yang kumiliki, yang harus selalu ada disampingku karena jika tidak saya akan terus mencari kemana teman itu pergi dan selalu menantikan kepulangannya. 

Orang bahkan tidak pernah melihat kondisi hubungan kami dalam keadaan yang tidak baik, orang selalu melihat bahwa kami baik-baik saja. Bagaimana tidak, saya memiliki teman hidup yang selalu mengalah tidak peduli siapa yang bersalah dan selalu melupakan amarahnya tidak peduli seberapa kuat itu. Dialah teman terbaik saat itu...

to be continue... 

#4 Mencintai Bersama Proses

Awalnya saya tidak ingin mempublikasikan hubungan ini, pertama karena saya belum lama berakhir dari hubungan sebelumnya, kedua karena kami berada di jurusan yang sama, ketiga karena status kami adalah sebagai senior junior dan saya tipe orang yang paling tidak suka melibatkan senioritas dalam hubungan dan sebaliknya tidak ingin mencampurkan hubungan kedalam status senior junior itu, keempat karena ingin menutup diri dari apapun, tidak ingin mengulang masa lalu yang terlalu terbuka, selalu dilihat dan dibicarakan oleh orang banyak hingga ketika kita berakhir pun orang akan terus mencari tau dan tidak berhenti berkomentar. Saya ingin benar-benar mempunyai hubungan tanpa campur dan baik-buruknya komentar orang! Tapi kemudian saya harus mengambil langkah untuk mempublikasikan hubungan ini secara perlahan, karena ada beberapa pertimbangan salah satunya karena tidak ingin diganggu terus menerus oleh orang-orang berkelakuan liar diluar sana karena menganggap saya single. Banyak yang kaget dengan hubungan ini, tapi untunglah langkah ini ampuh dalam mengusir para pengusik kedamaian hidupku.

Semakin kesini kami semakin paham karakter pribadi masing-masing dan perlahan mulai merasa nyaman. Dia menawarkanku kebahagiaan diluar ekspetasi bahkan tidak pernah terlintas di fikiranku sebelumnya. Kebahagiaan dalam hubungan mungkin selalu ditawarkan oleh orang-orang sebelumnya, tapi dalam hubungan masa remaja usia SMA, dibawah 20 tahun, dengan gejolak yang menggebu-gebu, yang hanya mengejar status atau bahkan sekedar popularitas, tanpa kedewasaan, tanpa nilai! Sadar atau tidak, hubungan yang sebenar-benarnya baru akan dimulai ketika kita menginjak usia 20an, usia dimana kita menjalani hubungan dengan penuh pertimbangan dan tidak hanya sebatas status dan gejolak. Inilah waktu ketika usia saya tidak remaja lagi, 2 hubungan terakhir yang nyata, dimana saya mulai menetapkan pilihan tentang hubungan yang benar-benar menguras hati dan juga fikiran, menguji seberapa berani seberapa tepat dan seberapa adil terhadap diri sendiri dan orang lain dalam pengambilan keputusan. 

Dari pertimbangan diatas, ditambah dengan pertimbangan hubungan sebelumnya yang benar-benar jauh dari kata bahagia, bisa dibilang inilah hubungan paling bahagia dan paling ideal yang pernah saya jalani sejauh itu. Bagaimana tidak saya menemukan orang yang setiap malam bertanya apa jadwal besok, dan keesokkannya sudah siap di depan pagar untuk menjemput kemudian mengantar dan pulangnya pun selalu menawarkan diri untuk menjemputku secara rutin selagi bisa. Bagaimana tidak yang jika di hubungan lain kita hanya menemukan sosok pacar atau mentoknya sahabat dalam diri pasangan, saya justru diberikan orang yang didalamnya ada sosok pacar, teman merangkap sahabat, ibu, ayah kakak bahkan kakek buatku. Dan saya menganggap dia anugrah yang diberikan Tuhan untuk mengobati setiap sakit akibat luka masa lalu, yang mengganti setiap patahan hatiku dengan yang baru, yang membuat musim gugur berubah menjadi musim semi, yang membuat setiap hari serasa ingin tidur saja dan kemudian besoknya semua masalah selesai, yang selalu menjadi permen di setiap sakitku dan menjadi pelangi untuk setiap hujanku dan yang bisa mengubah hari-hari yang rasanya seperti hari Senin menjadi semenenangkan dan semenyenangkan akhir pekan. Benar kata orang, ada pelangi setelah hujan turun.

Setiap nasehat yang dia berikan sangat bemanfaat buatku, dia selalu berusaha ada tidak hanya dalam tawa tapi dalam setiap rasa. Inilah alasan mengapa saya menjadi sangat manja dan bergantung kepadanya, merasa setiap beban yang ada selalu menjadi ringan karena ada orang yang dengan senang hati tulus ikhlas menawarkan untuk menjadi solusi. Dia sadar betul bahwa hubungan kami instan hingga akhirnya dia berusaha mengukir momen yang sulit untuk dilupakan dalam hubungan kami. Dia selalu mengajakku nonton tidak hanya di akhir pekan tapi di banyak waktu kosong kami, mengajakku makan di tempat baru atau di tempat favorit, karaoke berdua, bahkan berpetualang. Dia pernah bilang bahwa dia tidak menawarkan kemewahan, hanya sebatas peristiwa tapi yakinlah bahwa peristiwalah yang akan dikenang. Benar, karena berapapun uang yang dimiliki tidak akan mampu membayar kebahagiaan seseorang. Dia selalu memberikanku reward atas bantuan yang kuberikan padanya atau ketika dia menerima rezeki lebih. Saya ingat ketika membantu skripsinya saya selalu diajak makan di restoran fast food kesukaanku setelahnya, atau dimanapun saya ingin makan. Dia menjadi manager dalam hidupku saat itu setelah Allah dan orangtua, memberikan arahan untuk menjalani setiap agenda keseharianku, memberikan solusi untuk setiap masalahku dan bahkan mengevaluasi setiap pencapaian yang saya dapat setiap harinya! Bagaimana saya tidak merasa kehilangan jika sehari saja dia tidak ada?! Bahkan ketika dia pulang kampung, saya selalu mengatakan bahwa tidak ada temanku disini, karena saat itu dialah teman terbaik yang saya miliki...

Jika dibandingkan dengan cerita dua minggu awal kami dengan cerita ini mungkin banyak yang akan heran, saya sendiri masih tidak percaya semua keadaan berubah menjadi kebahagiaan. Dari cerita ini kita bisa menyimpulkan bahwa segala sesuatu butuh proses, termasuk yang instan sekalipun. Seperti membuat mie instan, sekalipun instan tapi kita membutuhkan proses untuk bisa menyantapnya, harus memanaskan air, merebus, membuka setiap bungkusan bumbu dan mencapurnya terlebih dahulu, kita bisa menambahkan bawang, potongan cabai atau bakso kedalamnya biar rasanya lebih enak, seperti itulah hubungan kami berproses tapi justru dari proses itulah kami menjadi lebih saling memahami satu sama lain... Jadi, tidak perlu takut menjalani hubungan yang instan alias tanpa masa PDKT yang berkepanjangan bahkan ada yang sampai menahun masa PDKT nya ujung-ujungnya di PHP. Tapi ingat justru karena hubungan kita instan kita justru harus lebih berproses dan harus diawali dengan mengenal lingkungan serta masa lalunya terlebih dahulu, jadi kita bisa menentukan langkah selanjutnya bisa atau tidaknya dilanjutkan...

to be continue...

#3 Awal yang Sulit

....................................................................................................

Seperti anak-anak yang belajar membaca seperti itu pula hubungan kami, "terbata-bata"... Tapi kembali lagi bahwa setiap manusia harus belajar termasuk belajar memulai dan membina hubungan baru, dan ini semua tentang bagaima membangun sebuah rumah yang nyaman...

Sejak mengambil keputusan berpacaran ada banyak kendala yang kami alami dalam hubungan ini, jelas saja karena kami harus mulai mencari tau dari A-Z karakter pasangan masing-masing. Dua minggu awal menjadi titik terberat kami dalam menyamakan jalan dengan langkah yang seirama. Sulit! Saya ingat ketika kami terlibat sebuah pembicaraan entalah tentang apa itu tiba-tiba dia merasa tidak nyaman dan sontak berdiri, menyalakan motor kemudian berlalu, mungkin mencari angin segar untuk memantapkan hati bahwa inilah keputusan yang diambilnya. 

Dari segi strategi bisa dibilang dia jauh lebih baik dalam mencoba mengenaliku dan lingkungan sekitarku, sebaliknya saya sulit menebak apalagi mencari tau siapa orang itu sebenarnya. Saya merasa bahwa dia adalah orang yang cukup aneh dari kebiasan, cara berbicara dan entahlah. Deskripsi awalku tentangnya sangat simpang siur, bahkan sempat ada dalam benakku bahwa dia memiliki ilmu hitam sampai bisa tau segala sesuatu tentangku dan apa yang ada difikiranku (padahal ini cuma masalah psikologi orang hehe). 

Saking sulitnya kondisi awal saat itu, belum mengenal terlalu jauh, perbedaan kebiasaan dan pemikiran berujung pada kata ketidakcocokan! Anca, begitu orang memanggilnya, mengajakku untuk bertemu dengan kenalan dekatnya, komunitas sedaerahnya dan bisa dibilang sudah dianggap keluarga olehnya. Pertemuan pertama, saya yang tipe anaknya pemalu belum bisa bicara apa-apa hanya diam dan menunggu pertanyaan dari orang-orang kemudian menjawab. Dia menyuruhku bicara tapi entah apa yang harus dibicarakan dengan orang-orang yang baru saat itu saya lihat, logikanya dengan dia saja saya kadang bingung harus bicara apa apalagi dengan orang baru dan sama sekali tidak ada ikatan denganku. Pertemuan kedua masih sama, saya belum mau bicara panjang lebar kecuali menjawab pertanyaan itupun dengan singkat (masa iya sih saya harus curhat sedetail-detailnya dengan orang baru atau sok akbrab begitu??)

Pertemuan ketiga, masih dengan orang-orang yang sama. Saat itu dia membiarkanku sendiri dengan teman-temannya dan menunggu hingga hampir setengah jam tapi apalah daya saya belum mau bicara apa-apa (seharusnya saat itu dia bangga, karena malu adalah sebagian dari iman hehe). Tanpa disangka dia langsung ingin mangantarku pulang dengan raut wajah emosi! Dalam perjalanan dia diam tapi kemudian bicara dan marah-marah dengan nada tinggi, benar-benar marah, bertanya kenapa saya tidak mau bicara, tidak mau bergaul dia bahkan bilang bahwa saya tipe orang yang sulit bergaul dan berujung pada kata "sepertinya kita memang tidak cocok!" Saya saat itu sangat emosi karena merasa tidak bersalah, wajar kalau kita dipertemukan dengan kondisi yang benar-benar asing benar-benar baru kita tidak langsung bisa akrab tidak bisa langsung haha hehe sembarangan, kita harus paham dulu lingkungan itu bisa jadi jangankan akrab untuk menerima lingkungan itu saja mungkin kita tidak bisa. Saya tipe orang yang tidak bisa dimarahi, mendengar orang dengan nada tinggi pun biasa langsung menangis, tapi saat itu karena emosiku juga di ubun-ubun saya memilih diam, lagian kalau saya memberikan interupsi tidak akan diterima dan dikalahkan dengan kecepatan bicara serta ketinggian nada suaranya. Benar saja, dia hanya mengantarku sampai depan pagar rumah tanpa masuk dan berbasa-basi dengan orang rumah terlebih dahulu, dan ditutup dengan kalimat "sebaiknya kita introspeksi diri dulu masing-masing, mungkin kita butuh waktu, karena kita sepertinya tidak cocok". 

Saya memaknai kalimat diatas sebagai keinginan untuk berpisah tapi dia tidak sampai hati mengucapkan kalimat itu karena mungkin hubungan kita masih seumur kecambah yang baru mau tumbuh akar! Akhirnya karena saya dengan level emosi di atas rata-rata malam itu karena dimarahi habis-habisan ditambah alasanku yang sebenarnya tidak bisa disalahkan kemudian mengirimkan sesuatu di BBM, intinya adalah memang betul kita sama sekali tidak cocok, keputusan menjalani hubungan tanpa masa PDKT yang cukup itu adalah keputsan yang salah, saya tidak bisa paham dengan dunianya dan sebaliknya jadi seharusnya hubungan ini diakhiri, saya juga menulis bahwa tidak mau bertemu apalagi berbica dengannya. Tepat sekali di dua minggu awal, 14 hari pertama kami berpisah...

Saya fikir itulah akhirnya, tapi ternyata keesokan harinya meminta maaf atas kejadian semalam dan mengatakan bahwa itu semua hanya karena emosi sesaat karena saya enggan berbicara. Tapi saya tidak ingin meneruskan hubungan itu dan tidak ingin menggubrisnya lagi. Tiba-tiba dia datang ke rumah dan meminta maaf, menjelaskan semua maksudnya yang sebenarnya baik, iya memang baik tapi dikacaukan oleh emosi. Entah ini disebut putus atau tidak, atau malah bisa dibilang tidak putus alias pembatalan kata putus atau apa, saya kemudian memaafkan dan memilih untuk melanjutkan...

Dua hal positif yang dia ajarkan kepadaku setelah malam itu:
  1. Pelajaran pertama adalah penting bagi kita untuk mengenal lingkungan disekitar pasangan agar paham dari lingkungan seperti apa dia berasal, bagaimana cara dia bergaul, kemudian bisa merasakan kenyamanan hingga temannya menjadi teman kita juga, saling berbagi dan membantu terutama ketika kita dalam kesulitan sementara pacar tidak ada di tempat saat itu, atau karena kondisi lain dimana kita benar-benar membutuhkan bantuan orang terdekat. Selain itu, ketika kita bermasalah dengan pasangan, kita mempunyai tempat yang tepat untuk mengadu dan mencari solusi serta mengetahui keberadaannya ketika sedang tidak berkomunikasi dengan baik.
  2. Pelajaran kedua adalah maturitydibutuhkan kedewasaan, dewasa yang tidak hanya dalam bentuk kata dan harapan melainkan pembuktian dalam menanggapi segala sesuatu termasuk perpisahan. Cerita ini masih panjang, dan ada kisah tentang kedewasaan lainnya yang dia tunjukkan hingga hubungan ini terselamatkan...

to be continue...


#2 9 September 2013

...............................................................................

Tidak pernah sebelumnya saya berfikir mengakhiri masa single secepat itu, dari laki-laki yang pertama kali dalam hidup bisa kupertahankan sampai hampir 3 tahun, it such a miracle! Tapi pada H3 PDKT, malam itu saya mulai galau karena tanggal cantik akan berakhir dalam beberapa jam lagi, kalau saja senior itu menembakku bisa jadi kami punya momen indah yang tidak sulit untuk diingat-ingat kembali. Benar saja, tidak lama kemudian saya menerima pesan yang isinya ajakan nonton dan kali ini nontonnya di bioskop. Karena masa pra-pacaran alias pendekatan baru berjalan sekitar 3 harian, malam itu saya tidak punya fikiran bahwa senior yang kaku ini akan menembak saat itu juga karena biar bagaimanapun kami butuh waktu lebih untuk mengenal pribadi masing-masing. 

Dugaanku ternyata...... Malam itu ketika film masih berlangsung saya melihat dia agak gelisah, beberapa kali memperbaiki posisi duduk sambil memegang hp dan mengetik sms. Fikiranku saat itu dia sedang gelisah karena mungkin saja pacarnya menghubunginya dan dia sedang berfikir jawaban yang seharusnya dia utarakan untuk pacarnya yang saat itu mungkin sedang galau menunggunya. Semakin jauh fikiranku akan menjalin hubungan lebih lanjut dengan senior itu. Film hampir usai, tiba-tiba dia memberikanku hp dan menyuruhku membaca pesan. Bingung, ada apa kenapa tiba-tiba menyuruhku membaca privasinya eh ternyata itu bukan inbox melainkan halaman pesan yang diketiknya sendiri dan isinya "mauki jadi pacarku?" yang artinya maukah kamu menjadi pacarku? Dan akhirnya semua kegundahanku terpatahkan oleh pertanyaan itu tapi saya belum langsung menjawabnya. 50% alasan karena masih mempertimbangkan, karena saya belum tau 5W dan 1H nya orang ini tapi di sisi lain ada 15% dimana saya ingin memiliki momen indah di tanggal cantik itu dan ada 35% dimana saya terbiasa mendapat surprise dari pacar setiap hari ulang tahunku. 

Di tengah perjalanan pulang, 50% hasil akumulasi dua alasan terakhir tadi tiba-tiba meningkat 20% dan akhirnya menjadi 70%, so i said officially "yes"! Walaupun, saya tau hubungan yang terjadi secara instan itu mungkin akan sulit dan mungkin akan berjalan dengan tidak lancar, karena selama ini pun saya sulit mempertahankan hubungan kendati sudah diawali dengan proses PDKT yang cukup panjang, apalagi dengan hubungan instan ini?! Seumur hidup pun saya tidak pernah mengalami masa PDKT yang sesingkat itu! Yasudahlah, jalani saja dulu toh kalaupun tidak cocok, apa salahnya mengakhiri (karena hubungannya terjadi secara instan, fikiranku pun jadinya seinstan itu!)

And finally apapun itu terlepas dari niat utama dari dalam hati kami masing-masing, we're officially became an unpredictable instant couple....

to be continue...

#1 Hallo Seniorku

Kalau dulu saya pernah bercerita tentang seseorang yang pernah ada dalam kisah percintaan saya namun kemudian mematahkan hati, kali ini saya akan bercerita panjang tentang kisah yang cukup singkat dengan latar belakang yang benar-benar jauh berbeda dengan kisah sebelumnya. Sebuah cerita yang mungkin tidak akan cukup dengan ribuan kosakata, sebuah cerita yang mungkin saja bisa menjadi sebuah artikel...

Agustus 2013 saya resmi berpisah dengan seorang laki-laki dengan gelar Mr.Hurty di cerita saya sebelumnya. Jujur setelah saat itu, belum terlintas di fikiranku untuk memulai hubungan baru dan rasanya seperti ingin diam dan memulihkan hati dulu. Tapi sebulan kemudian tepatnya bulan September, takdir berkata sebaliknya. Ada seorang laki-laki yang sudah cukup lama ada didalam kontak BBM saya, saya tau dia adalah senior kami di kampus tapi setauku dia angkatan 2007 dan hanya satu kali saya melihat kakak itu di jurusan. Anehnya,cukup lama kami menjadi teman BBM tapi sama sekali tidak pernah terlibat pembicaraan apapun. Oh iya saya ingat waktu itu saya sempat bertanya tentang DP (display picture)-nya si kakak karena kebetulan mirip dengan DP teman saya, tapi hanya sekali itu kami berkomunikasi dan sama sekali tidak pernah menanyakan siapa kamu siapa saya angkatan berapa dan apalah. Saya juga sering melihat dia memasang foto dengan pacarnya, saya juga sering memasang foto dengan pacar saya waktu itu (Mr.Hurty) sama sekali tidak pernah terlintas untuk berkenalan, apalagi menjalani hubungan lebih lanjut dengan kakak itu.

Suatu ketika, ada DM (direct message) dari kakak itu di twitter saya yang entah bagaimana caranya ternyata kami juga sudah berteman lama disitu. Dengan santainya dia memanggilku "indah", seperti orang yang sudah lama kenal denganku. Kami berkomunikasi baik malam itu, dia menanyakan tentang kesibukan dan apa kegiatan saya kedepannya, dan jujur saya shock karena saat itu awal pertama kami berbincang dia langsung mengajakku nonton. Sesuatu yang sangat aneh bagiku dan tentunya siapapun yang ada di posisiku saat itu akan merasa demikian, siapa yang tidak kaget ada laki-laki yang berani mengajak nonton di momen pertama saling bertegur sapa, aneh bukan?! Tapi dibalik semua keanehan itu, justru yang lebih aneh adalah kenapa saya menerima tawaran dari si kakak padahal baru kenal?! Calm, alasan saya cukup kuat kok, yang pertama karena walaupun itu komunikasi pertama tapi kakak itu jelas senior saya yang selama ini memang tidak pernah "punya catatan buruk" dengan saya pribadi, alasan kedua karena dari segi penampilan si kakak terlihat "sangat formal" yang artinya kemungkinan besar jauh dari ke-slengean, dan yang ketiga karena saat itu tawaran yang dia berikan adalah nonton film dokumenter di aula salah satu fakultas di kampus dan bukan film drama percintaan di bioskop, kesimpulannya ini merupakan kegiatan positif untuk menampilkan karya mahasiswa dengan memperkenalkan budaya lokal jadi bermanfaat dan bukan malah dijadikan ajang untuk mengungkapkan perasaan. Selain itu, karena kegiatan itu di kampus jadi menurut saya tidak ada celah untuk dia melakukan sesuatu yang berlebihan karena ini masih di area kampus (subhanallah fikiran saya sebegitunya hehe).

Hari itu hari yang bisa dibilang H1 PDKT, saya tidak banyak bertanya, dia yang malah tidak bisa berhenti bertanya soal saya terutama keputusan saya memilih berakhir dengan mantan sebelumnya. Si kakak juga menjelaskan bahwa ternyata dia sudah memperhatikan gerak-gerikku jauh sebelum hari dimana kami berkenalan, dia bahkan tau teman-temanku, pacarku dan dia tau bahwa kami sudah berakhir (woles, ini mah senjatanya cowok kan yah basi haha). Saya masih tidak percaya kami dipertemukan dengan jelas dan berkenalan. Nah ini dia yang akhirnya banyak menimbulkan spekulasi dimana-mana, banyak yang mengira bahwa kami bertemu di lokasi KKN jadi bisa dibilang cinlok, tapi bisa dikonfirmasi bahwa itu semua tidak benar, si kakak sudah KKN lebih dulu tepat di masa KKN angkatannya, dan saya pun demikian jadi kami murni baru bertemu dan berkenalan tidak lama sebelum akhirnya jadian!

H2 PDKT, dia mengajakku makan malam diluar nah ini agak lucu sih. Karena waktu itu saya belum konfirmasi apa-apa soal cowok yang PDKT sama saya kepada kakak-kakak penghuni rumah karena kebetulan sayanya ditau belum lama putus dari si mantan panik gegara si kakak ngajakin makan malam diluar! Akhirnya saya bilang silahkan jemput saya tapi tolong jangan masuk dulu ke dalam rumah karena masih belum enak, belum konfirmasi apa-apa. Eh tiba-tiba si kakak ngotot masuk ke rumah, speechless saya waktu itu dan pas saya ke ruang tamu ternyata dianya lagi asik ngobrol dengan kakak-kakak di rumah, akrab pula! Kebingungan iya, tapi lebih ke perasaan tenang, karena selain tidak perlu menyusun bait demi bait secara tidak langsung itu sudah menjadi bentuk konfirmasi yang efektif. Dan ada satu penilaian penting dari kedatangannya ke rumah, waktu mau berangkat dia meminta izin kepada kakak-kakak di rumah, ini sangat membuat saya terkesima karena cowok zaman sekarang jangankan minta izin untuk kenal dengan kerabat kita pun ogah-ogahan. Kesimpulan awal bisa dibilang dia pria bertanggung jawab. Saya sudah mengambil pelajaran positif hari itu tapi tiba-tiba dia meminta maaf karena lancang masuk ke rumah padahal saya bilangnya jangan, alasannya karena menurutnya tidak sopan kalau hanya sekedar menunggu diluar saja tanpa meminta izin, lagipula selain izin keluar dia perlu restu dari orang dekat saya walaupun mereka bukan keluarga kandung saya. Saya teringat kebiasaan yang selalu diterapkan orangtuaku, setiap teman yang datang menjeput, mau laki-laki mau perempuan, usahakan masuk dulu, duduk dan bertemu serta berjabat tangan dengan orang tua, setelah itu minta izin baru pergi, bukan hanya duduk menunggu dalam mobil atau di atas motor saja.

to be continue...