Friday, 29 January 2016

Itu namanya curang

Ada banyak hal yang membutuhkan banyak pengertian di dunia ini, termasuk pengertian terhadap sesama perempuan. Saya sendiri sebagai perempuan merasa bahwa dunia kita memang sangat ribet, repot dan memusingkan. Terlalu banyak berpuisi mending saya curhat deh...

Selama ini saya merasa sudah cukup meluangkan dan membagi perhatian dengan kadar yang diatas rata-rata untuk para sahabat, tapi entah mengapa justru merekalah yang sangat tidak mengerti dengan keadaanku. Saya selalu berusaha untuk tidak pernah lupa dengan ulang tahun sahabat dekatku, bahkan tidak jarang saya memberikan mereka surprise tapi entahlah justru ulang tahunku yang dilupakan. Jangankan surprise, ucapan selamat ulang tahun pun mereka lupa, kalau bukan lupa yah paling telat itupun karena sudah heboh duluan di media sosial. Tahun kemarin saya tepat memberikan ucapan selamat di setiap hari ulang tahun mereka, bahkan sayalah satu-satunya sahabat yang selalu tidak pernah lupa tapi............menyedihkan justru saya lah yang selalu terlupakan...... Baru ingat sih dulu mungkin kalau bukan surprise dari pacar saya juga ga bakalan dapat surprise seharian!

Cerita tentang perhatian.....kalau tadi hubungannya dengan selebrasi hari lahir, kali ini tentang curhatan. Ada sahabat yang selalu meminta waktu untuk bertemu alasannya sih "meetup" tapi yang terjadi adalah dia curhat sepanjang waktu menceritakan setiap kata yang ingin dicurahkan. Giliran kitanya lagi pengen banget cerita dianya ga serius mendengarkan, dianggap becanda. Atau giliran kitanya ajak keluar dia malah nolak kalau lagi meras1a ga ada bahan buat dia curhatin. aahsudahlah mau marah juga kita ga bakalan selamanya bisa ngatasin masalah sendiri, toh ujung-ujungnya mereka yang terbaik dibanding orang lain diluar sana! Mau ketawa juga butuh mereka, ga mungkin ketawa sendiri kan, belum gila kan? hahaha

Suatu saat kalau kalian para sahabat-sahabatku dengan sengaja atau nggak akhirnya membaca curhatan ini, tenang aja ini cuman kode aja kok saya tetap sayang kalian (kode keras tapi) :3

SAYA BUKAN SAGU !

Hallo Pria!

Mungkin di blog ini tidak ada label khusus pria, tapi hari ini benar-benar tertarik membahas hal yang satu ini. Apakah ukuran dari cinta dan kesetiaan kalian adalah "fisik" ? Bukankah hal itu bukan jaminan atas keberhasilannya hubungan kalian ?

Entahlah tapi mataku agak terbelalak dengan pernyataan "rambutmu sekarang sudah panjang, kulitmu juga sudah cerah, tidak ada jerawat lagi". Mungkin ada yang merasa bahwa itu adalah sebuah pujian tapi tidak denganku, karena saya justru menganggap itu adalah sebuah penghinaan. Iyah, penghinaan! Coba banyangkan bagaima jika fisik saya berubah di saat kita masih menjalin hubungan, mukaku berjerawat, kusam, rambutku pendek dan berat badanku yang naik berkilo-kilo seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, pertanyaannya akankah kamu meninggalkanku? Let me guess, jawabannya pasti iya bukan? 

Untungnya segala kondisi buruk yang terjadi pada diriku saat itu muncul disaat kita sudah berpisah, karena jujur saya tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi saat itu jika kita masih bersama. Dan pernyataanku bahwa "cinta sebatas jerawat" itu pasti benar buktinya selalu ada pembahasan soal itu sampai detik ini. 

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang mempunyai fase dimana dia benar-benar akan terlihat cemerlang baik dari segi fisik, keuangan, karir bahkan kehidupan pribadinya dan sebaliknya ada saat dimana seseorang benar-benar akan terpuruk tidak hanya dari segi finansial, kehidupan pribadi bahkan sampai fisik dan kepercayaan diri. Tapi, apakah itu semua yang akan membuat kalian para pria akan meninggalkan pasangan kalian? 
Dan setelah mereka berusaha mati-matian untuk bisa bangkit dan kembali cemerlang tanpa kalian, tiba-tiba saja kalian datang dengan sebuah kata rindu, cinta atau taiatau apalah itu? Hanya cewek bodoh yang akan bangga dengan bualan kalian itu!

Ingatlah bahwa bukan fisik yang akan menjamin bertahannya hubungan kalian, tapi karakterlah yang akan berperan. MAu yang cantik, putih, lembut? Sana gih, pacaran sama SAGU, TEPUNG ATAU BEDAK !!! hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahah

Thursday, 28 January 2016

Jangan mau "dikalahkan" rasa !

Hei ladies.........

Sebagai wanita kita memang ditakdirkan memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Tidak bisa dipungkiri wanita lebih cenderung menggunakan perasaannya dibanding logika ketika melakukan sesuatu, termasuk ketika mengambil sebuah keputusan. Itulah mengapa dalam banyak kasus percintaan yang kebanyakan sakit adalah wanita karena mereka sangat sulit mengabaikan perasaan ketika disandingkan dengan logika. Ini memang dialami oleh sebagian besar wanita, akan tetapi ada beberapa darinya yang justru sanggup berdiri mengalahkan rasa mereka....dan saya satu diantaranya.

Entah darimana berasal, mungkin tepatnya sebelum saya mengenal hubungan yang begitu banyak melibatkan perasaan yang dalam. Semenjak saya mengenal cinta monyet di SD, SMP bahkan sampai pacaran ala remaja di SMA semuanya bukan karena alasan cinta atau semacamnya, semuanya karena "logika" yang terkait jabatan, nama baik, kepupoleran, ukuran fisik dan sebagainya. Bahkan saya ingat rela melepaskan hubungan yang benar-benar saya inginkan waktu SMA karena tidak ingin menjalani hubungan yang selalu diusik oleh senior yang menyukai pacarku, salah satu hal yang mencerminkan bagaimana logika saya selalu menjadi prioritas dibanding perasaan.

Times changes, saya memasuki usia yang bukan remaja awal lagi. Di masa perkuliahan saya bertemu dengan seseorang yang entah dia disebut cinta pertama atau bagaimana, saya sendiri bingung dengan deskripsi cinta pertama. Inilah pertama kalinya saya melepaskan logika dan selalu mengutamakan perasaan. Pria yang mendampingiku saat itu pun selalu memberikan doktrin bahwa sebenarnya perasaan adalah hal paling benar dibandingkan fikiran karena fikiran bisa berubah tapi perasaan tidak, jadi ikutilah apa yang dikatakan oleh perasaan. Saya yang entah dalam situasi seperti apa kemudian merubah pola fikir saya mulai detik itu.
Apa yang terjadi? Semua keadaan berubah, yang awalnya saya selalu memilih berakhir ketika hubungan agak sedikit mengalami gangguan, saat itu saya malah memilih bertahan di tengah hubungan yang sangat tidak sehat! Saya bertahan bahkan hampir 3 tahun, bertahan dan menguatkan hati bahwa perasaanlah yang terbenar tidak peduli bagaimana perasaan orang lain terluka, bahkan tidak peduli bagaimana kondisi sendiri sedang terluka, saya tetap maju mempertahankan perasaan yang kuat dan mengabaikan semua logika yang ada. Setiap kali hubungan saya berakhir yang ada hanyalah air mata yang rasanya tidak ingin berhenti, dunia seakan mau runtuh dan hal yang paling buruk adalah saya sebagai perempuan sampai harus mengemis untuk sekedar bisa kembali membina hubungan itu, menjadi seperti tidak mempunyai harga diri lagi.

Sampai pada akhirnya saya tiba pada titik dimana hati benar-benar terluka, saya tidak bisa memperbaiki semua keadaan apapun itu, saya menyerah, saya kalah. Tapi apa yang kemudian membuat saya bangkit? Saya memutar semua pola fikir saya, saya kembali menjadi perempuan seperti dulu yang selalu mengedepankan logika. Akhirnya dengan logika saya berhasil pulih dalam waktu yang singkat! Sesuatu yang sulit dibayangkan, saya sangat siap untuk keluar dari penjara, dari hubungan yang tidak sehat itu, dari semua kesalahan, keburukan dan keterpurukan, saya siap berpisah! Bahkan ketika keputusan itu lebih dulu dilontarkan olehnya, setidaknya saya bahagia terlepas dari itu semua, walaupun ada sedikit kekesalan karena hanya beda beberapa menit sebelum saya menekan tombol enter untuk mengirimkan pesan singkat dengan maksud yang sama, berpisah.

Setelah hari itu tidak ada penyesalan apapun tentang perpisahan, saya sudah kembali dengan semua kekuatan logikaku. Saya bahkan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk kembali, karena aapun itu kita sudah memilih berakhir.

Dan setelah hari itu saya dipertemukan dengan seseorang yang baik hatinya dan selalu membahagiakan. Saya sangat menginginkan hubungan itu, benar-benar sebuah hubungan yang ideal. Walaupun demikian, saya tetap dengan prinsip dan pola fikir bahwa sebesar apapun perasaan, logika harus berada beberapa langkah lebih maju didepannya. Dan berhasil! Walaupun pada akhirnya kami memilih berpisah, saya pun tidak menyesal karena semua dilakukan dengan logika. Dan logika juga menjadi alasan mengapa samai detik ini seribu ucapan sayang dan untaian kalimat untuk kembali selalu kutolak. Karena secara logika, kalau sebuah hubungan diibaratkan dua buah mobil yang berada di lajur, jalur dan arah yang berbeda tetapi tujuan akhirnya adalah titik yang sama maka sejauh apapun dan dari manapun mereka mengawali start tetap akan tiba di titik yang sama. Berbeda jika dua buah mobil tersebut sama-sama berada pada jalur, lajur dan arah yang sama tetapi titik tujuannya berbeda seberepa detikpun mereka berusaha bersama-sama mengawali start dengan kecepatan dan dari titik start yang sama persis, mereka tidak akan pernah tiba pada titik tujuan yang sama. Seperti itulah jika prinsip kita mungkin bisa sama tapi jika tujuan berbeda, its non sense...

Itulah alasan dari keputusan mutlak saya, logika. Hanya sang Maha pembolak-balik hatilah yang bisa menentukan akhir dari ini semua...
Pesannya adalah gunakanlah logika sebaik mungkin, bukan berarti perasaan itu salah, tetapi sering kali kita mengabaikan logika karena terlalu mementingkan perasaan yang membuat kita akhirnya salah dalam mengambil keputusan... so keep your logic and feel balance, girls :3