....................................................................................................
Seperti anak-anak yang belajar membaca seperti itu pula hubungan kami, "terbata-bata"... Tapi kembali lagi bahwa setiap manusia harus belajar termasuk belajar memulai dan membina hubungan baru, dan ini semua tentang bagaima membangun sebuah rumah yang nyaman...
Sejak mengambil keputusan berpacaran ada banyak kendala yang kami alami dalam hubungan ini, jelas saja karena kami harus mulai mencari tau dari A-Z karakter pasangan masing-masing. Dua minggu awal menjadi titik terberat kami dalam menyamakan jalan dengan langkah yang seirama. Sulit! Saya ingat ketika kami terlibat sebuah pembicaraan entalah tentang apa itu tiba-tiba dia merasa tidak nyaman dan sontak berdiri, menyalakan motor kemudian berlalu, mungkin mencari angin segar untuk memantapkan hati bahwa inilah keputusan yang diambilnya.
Dari segi strategi bisa dibilang dia jauh lebih baik dalam mencoba mengenaliku dan lingkungan sekitarku, sebaliknya saya sulit menebak apalagi mencari tau siapa orang itu sebenarnya. Saya merasa bahwa dia adalah orang yang cukup aneh dari kebiasan, cara berbicara dan entahlah. Deskripsi awalku tentangnya sangat simpang siur, bahkan sempat ada dalam benakku bahwa dia memiliki ilmu hitam sampai bisa tau segala sesuatu tentangku dan apa yang ada difikiranku (padahal ini cuma masalah psikologi orang hehe).
Saking sulitnya kondisi awal saat itu, belum mengenal terlalu jauh, perbedaan kebiasaan dan pemikiran berujung pada kata ketidakcocokan! Anca, begitu orang memanggilnya, mengajakku untuk bertemu dengan kenalan dekatnya, komunitas sedaerahnya dan bisa dibilang sudah dianggap keluarga olehnya. Pertemuan pertama, saya yang tipe anaknya pemalu belum bisa bicara apa-apa hanya diam dan menunggu pertanyaan dari orang-orang kemudian menjawab. Dia menyuruhku bicara tapi entah apa yang harus dibicarakan dengan orang-orang yang baru saat itu saya lihat, logikanya dengan dia saja saya kadang bingung harus bicara apa apalagi dengan orang baru dan sama sekali tidak ada ikatan denganku. Pertemuan kedua masih sama, saya belum mau bicara panjang lebar kecuali menjawab pertanyaan itupun dengan singkat (masa iya sih saya harus curhat sedetail-detailnya dengan orang baru atau sok akbrab begitu??)
Pertemuan ketiga, masih dengan orang-orang yang sama. Saat itu dia membiarkanku sendiri dengan teman-temannya dan menunggu hingga hampir setengah jam tapi apalah daya saya belum mau bicara apa-apa (seharusnya saat itu dia bangga, karena malu adalah sebagian dari iman hehe). Tanpa disangka dia langsung ingin mangantarku pulang dengan raut wajah emosi! Dalam perjalanan dia diam tapi kemudian bicara dan marah-marah dengan nada tinggi, benar-benar marah, bertanya kenapa saya tidak mau bicara, tidak mau bergaul dia bahkan bilang bahwa saya tipe orang yang sulit bergaul dan berujung pada kata "sepertinya kita memang tidak cocok!" Saya saat itu sangat emosi karena merasa tidak bersalah, wajar kalau kita dipertemukan dengan kondisi yang benar-benar asing benar-benar baru kita tidak langsung bisa akrab tidak bisa langsung haha hehe sembarangan, kita harus paham dulu lingkungan itu bisa jadi jangankan akrab untuk menerima lingkungan itu saja mungkin kita tidak bisa. Saya tipe orang yang tidak bisa dimarahi, mendengar orang dengan nada tinggi pun biasa langsung menangis, tapi saat itu karena emosiku juga di ubun-ubun saya memilih diam, lagian kalau saya memberikan interupsi tidak akan diterima dan dikalahkan dengan kecepatan bicara serta ketinggian nada suaranya. Benar saja, dia hanya mengantarku sampai depan pagar rumah tanpa masuk dan berbasa-basi dengan orang rumah terlebih dahulu, dan ditutup dengan kalimat "sebaiknya kita introspeksi diri dulu masing-masing, mungkin kita butuh waktu, karena kita sepertinya tidak cocok".
Saya memaknai kalimat diatas sebagai keinginan untuk berpisah tapi dia tidak sampai hati mengucapkan kalimat itu karena mungkin hubungan kita masih seumur kecambah yang baru mau tumbuh akar! Akhirnya karena saya dengan level emosi di atas rata-rata malam itu karena dimarahi habis-habisan ditambah alasanku yang sebenarnya tidak bisa disalahkan kemudian mengirimkan sesuatu di BBM, intinya adalah memang betul kita sama sekali tidak cocok, keputusan menjalani hubungan tanpa masa PDKT yang cukup itu adalah keputsan yang salah, saya tidak bisa paham dengan dunianya dan sebaliknya jadi seharusnya hubungan ini diakhiri, saya juga menulis bahwa tidak mau bertemu apalagi berbica dengannya. Tepat sekali di dua minggu awal, 14 hari pertama kami berpisah...
Saya fikir itulah akhirnya, tapi ternyata keesokan harinya meminta maaf atas kejadian semalam dan mengatakan bahwa itu semua hanya karena emosi sesaat karena saya enggan berbicara. Tapi saya tidak ingin meneruskan hubungan itu dan tidak ingin menggubrisnya lagi. Tiba-tiba dia datang ke rumah dan meminta maaf, menjelaskan semua maksudnya yang sebenarnya baik, iya memang baik tapi dikacaukan oleh emosi. Entah ini disebut putus atau tidak, atau malah bisa dibilang tidak putus alias pembatalan kata putus atau apa, saya kemudian memaafkan dan memilih untuk melanjutkan...
Dua hal positif yang dia ajarkan kepadaku setelah malam itu:
- Pelajaran pertama adalah penting bagi kita untuk mengenal lingkungan disekitar pasangan agar paham dari lingkungan seperti apa dia berasal, bagaimana cara dia bergaul, kemudian bisa merasakan kenyamanan hingga temannya menjadi teman kita juga, saling berbagi dan membantu terutama ketika kita dalam kesulitan sementara pacar tidak ada di tempat saat itu, atau karena kondisi lain dimana kita benar-benar membutuhkan bantuan orang terdekat. Selain itu, ketika kita bermasalah dengan pasangan, kita mempunyai tempat yang tepat untuk mengadu dan mencari solusi serta mengetahui keberadaannya ketika sedang tidak berkomunikasi dengan baik.
- Pelajaran kedua adalah maturity, dibutuhkan kedewasaan, dewasa yang tidak hanya dalam bentuk kata dan harapan melainkan pembuktian dalam menanggapi segala sesuatu termasuk perpisahan. Cerita ini masih panjang, dan ada kisah tentang kedewasaan lainnya yang dia tunjukkan hingga hubungan ini terselamatkan...
to be continue...
No comments:
Post a Comment