Saturday, 14 May 2016

ratore (?)

Ada cerita baru tentang rasa...
Tempat kerja baru dunia baru emosi baru...dan disinilah kita bertemu.
Bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang aneh entah bagaimana caranya merepresentasikan perasaannya yang pasti dia berbeda. 

Walaupun saya tau setiap laki2 memiliki sisi yang kurang lebih sama dan cenderung buruk tapi saya menyukai yang satu ini. Dia diam. Tidak banyak bicara. Tidak suka disentuh. Tidak suka merayu. Malu menatap. 
Pria beralis tebal dengan tatapan mata yang tajam, aaahhh sungguh sungguh jatuh cinta dengan yang satu ini 😍😍😍

Banyak yang bilang dia pernah mengalami pengalaman pahit dengan kisah cintanya dulu dan itu membuatnya takut memulai hubungan baru. Tapi bukankah itu berarti dia tidak bisa lepas dengan masa lalunya? Ataukah dia tipe orang yang over selective dalam memilih pasangan? Apapun itu sayangnya kita tidak memiliki perasaan yang sama. Bisa dibilang saya mulai tegila-gila tapi kamu tidak memiliki rasa sekecil partikel atom pun.

Saya tidak akan berjuang untuk hal yang saya tau tidak mungkin. Bisa jadi kamu menginginkan orang lain. Bisa jadi kamu berharap kepada yang lain. Tapi tetap disitu di hadapanku walaupun hanya untuk ditatap dan hanya agar rasaku tidak mati hanya agar saya masih bisa merasakan debaran setiap hari. Dan tenanglah karena debaran ini tidak kusertai dengan harapan 😊

Anggap aja kamu itu aktor korea favorit yang bikin jatuh cinta bukan karena fisik melainkan karena sikapnya yang misterius dalam kisah percintaan. Dan anggaplah saya hanya sebatas fans yang sedang megagumimu 😂

A month passed...

9 April 2016... seminggu sebelumnya saya menerima panggilan telvon dari seorang teman kuliah. There such a great news! Saya dipanggil untuk menggantikan posisinya di salah satu perusahaan kontraktor di Gorontalo. Walaupun memang dari awal agak berat menerima ini, dengan alasan saya hanya ingin kerja kantoran, finally I decided to take this job! Ini kesempatan! Ini dunia saya! Dan ini akhir dari masa 1 tahun 4 bulan tanpa mencicipi pekerjaan apapun! This is my first in a jobzone and am trying my best!

Seminggu awal memang masih bingung pekerjaan baru, dunia baru, wajah baru, dan emosi-emosi baru...
Tidak sepenuhnya sulit tapi tidak sepenuhnya menyenangkan. Seperti halnya memulai kuliah atau sekolah baru, dunia pekerjaan ternyata lebih dari hal itu. Lebih dari sekedar pertemanan, menjalin keakraban, kepatuhan terhadap guru dan senioritas tapi jauh lebih kompleks dari itu semua! Saat sekolah itu semua dipelajari sehingga ketika salah maka kita diluruskan tapi ketika di dunia kerja itu semua diterapkan sehingga ketika kita salah maka yang meluruskan adalah diri sendiri bahkan terkadang tanpa toleransi.

Doaku terkabulkan di 2016! Alhamdulillah. Walaupun masih ada keberatan dalam diri ketika menjalani bagian-bagian yang agak sulit, tapi ini yang pertama dan ini nyata! Ini pekerjaan, bukan hubungan percintaan yang ketika kamu bosan atau kamu tidak paham ataupun tidak setuju kamu bisa seenaknya saja memilih mundur. Di dunia pekerjaan kamu harus benar-benar cinta dan kamu harus stay!

A month passed... sudah mulai bisa beradaptasi. Sudah mulai akrab dengan room mate dan perlahan mulai dekat dengan tetangga room bahkan orang2 yang tidak terlibat secara langsung dengan pekerjaan saya. Sudah mulai lega. Mulai menyenangkan. Tingkat kecanggungan mulai berkurang. Mulai banyak kosakata yang bisa saya obrolkan. Mulai banyak sapaan yang saya ucapkan.

Berbicara tentang rasa. Disini saya berkesempatan melihat hutan. Jauuuh lebih menenangkan dibanding berada di kantor beton dan kaca yang sepanjang hari terpapar udara AC yang sumpek dan mumet. Kalau orang berfikir di hutan panas itu salah, udara di hutan jauh lebih sejuk dan bebas polusi. Disana ada teman kita dengan spesies berbeda. Its such a different enjoyable things! Di kota emang bisa liat monyet berkeliaran secara bebas? Gak kan?! Ada suara burung terbang berkicau secara lepas? Di kota yang ada mah suara burng dari sangkar yg seakan2 minta dilepas.

Saya mulai tertarik dan menikmati ini semua...

Tapi ketika dinikmati ternyata tidak semuanya enak. Benar kata2 there is a good there is a bad! Semakin ada enaknya semakin banyak ketidakenakannya. Saya bertemu orang2 baru yang ternyata karakternya tidak sebaik awal bertemu. Bahkan menemukan hal2 yang tidak bisa diterima atau saya tolerir. Tapi Allah menukar orang2 itu dengan orang2 yang awalnya saya anggap buruk tapi ternyata berhati lembut dan senang membantu.

Dan disini di dunia kerja saya jauh lebih memahami tentang bagaimana menjaga lisan. Ketika kita diam saja bisa jadi muncul masalah bayangkan jika semakin banyak kata2 yang kita lontarkan ada berapa jenis masalah yang akan muncul?! Tapi kita tidak perlu berbicara banyak toh yang perlu tau itu semua hanya Tuhan. Biarlah masing2 pribadi kita yang menilai orang lain salah atau tidak, sisanya kebenaran akan salah atau benarnya seseorang biarlah yang diatas yang mengurusnya 😊

Sekali lagi there is a good there is a bad. Ada memang segelintir orang yang membutuhkan kamu keahlian kerja keras serta kejujuranmu mencintai semangatmu dan menghargai usahamu dalam belajar sesuatu yang baru. Tapi disisi lain kamu menjadi sebuah ancaman bagi orang lain, menjadi penghalang bahkan perusak. Tapi keepcalm and be humble. Bekerjalah sesuai tugas dan tanggungjawabmu. Toh there is a bad pun pasti there is a good nya. Segala sesuatu pasti berhikmah. Tuhan memanggilmu di tempat ini bukan tanpa alasan. Dan seburuk-buruknya apa yang kamu rasakan itu tetaplah hanya sebatas rasa yang ujungnya akan berakhir juga.

Tidak baik menjadi orang yang terlalu peka dan saya menyadari hal itu. Ketika mulut menyayat hati bukankah itu akan sembuh juga? Tidak usah dirisaukan. Yang penting adalah jangan sampai mulutmu yang melukai perasaan orang lain, jangan memupuk dendam dalam batin walaupun orang berbuat demikian terhadapmu.
Berbahagialah kemudian bekerja keraslah jangan berhenti belajar dan jadilah pemaaf 😊☺

Friday, 29 January 2016

Itu namanya curang

Ada banyak hal yang membutuhkan banyak pengertian di dunia ini, termasuk pengertian terhadap sesama perempuan. Saya sendiri sebagai perempuan merasa bahwa dunia kita memang sangat ribet, repot dan memusingkan. Terlalu banyak berpuisi mending saya curhat deh...

Selama ini saya merasa sudah cukup meluangkan dan membagi perhatian dengan kadar yang diatas rata-rata untuk para sahabat, tapi entah mengapa justru merekalah yang sangat tidak mengerti dengan keadaanku. Saya selalu berusaha untuk tidak pernah lupa dengan ulang tahun sahabat dekatku, bahkan tidak jarang saya memberikan mereka surprise tapi entahlah justru ulang tahunku yang dilupakan. Jangankan surprise, ucapan selamat ulang tahun pun mereka lupa, kalau bukan lupa yah paling telat itupun karena sudah heboh duluan di media sosial. Tahun kemarin saya tepat memberikan ucapan selamat di setiap hari ulang tahun mereka, bahkan sayalah satu-satunya sahabat yang selalu tidak pernah lupa tapi............menyedihkan justru saya lah yang selalu terlupakan...... Baru ingat sih dulu mungkin kalau bukan surprise dari pacar saya juga ga bakalan dapat surprise seharian!

Cerita tentang perhatian.....kalau tadi hubungannya dengan selebrasi hari lahir, kali ini tentang curhatan. Ada sahabat yang selalu meminta waktu untuk bertemu alasannya sih "meetup" tapi yang terjadi adalah dia curhat sepanjang waktu menceritakan setiap kata yang ingin dicurahkan. Giliran kitanya lagi pengen banget cerita dianya ga serius mendengarkan, dianggap becanda. Atau giliran kitanya ajak keluar dia malah nolak kalau lagi meras1a ga ada bahan buat dia curhatin. aahsudahlah mau marah juga kita ga bakalan selamanya bisa ngatasin masalah sendiri, toh ujung-ujungnya mereka yang terbaik dibanding orang lain diluar sana! Mau ketawa juga butuh mereka, ga mungkin ketawa sendiri kan, belum gila kan? hahaha

Suatu saat kalau kalian para sahabat-sahabatku dengan sengaja atau nggak akhirnya membaca curhatan ini, tenang aja ini cuman kode aja kok saya tetap sayang kalian (kode keras tapi) :3

SAYA BUKAN SAGU !

Hallo Pria!

Mungkin di blog ini tidak ada label khusus pria, tapi hari ini benar-benar tertarik membahas hal yang satu ini. Apakah ukuran dari cinta dan kesetiaan kalian adalah "fisik" ? Bukankah hal itu bukan jaminan atas keberhasilannya hubungan kalian ?

Entahlah tapi mataku agak terbelalak dengan pernyataan "rambutmu sekarang sudah panjang, kulitmu juga sudah cerah, tidak ada jerawat lagi". Mungkin ada yang merasa bahwa itu adalah sebuah pujian tapi tidak denganku, karena saya justru menganggap itu adalah sebuah penghinaan. Iyah, penghinaan! Coba banyangkan bagaima jika fisik saya berubah di saat kita masih menjalin hubungan, mukaku berjerawat, kusam, rambutku pendek dan berat badanku yang naik berkilo-kilo seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, pertanyaannya akankah kamu meninggalkanku? Let me guess, jawabannya pasti iya bukan? 

Untungnya segala kondisi buruk yang terjadi pada diriku saat itu muncul disaat kita sudah berpisah, karena jujur saya tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi saat itu jika kita masih bersama. Dan pernyataanku bahwa "cinta sebatas jerawat" itu pasti benar buktinya selalu ada pembahasan soal itu sampai detik ini. 

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang mempunyai fase dimana dia benar-benar akan terlihat cemerlang baik dari segi fisik, keuangan, karir bahkan kehidupan pribadinya dan sebaliknya ada saat dimana seseorang benar-benar akan terpuruk tidak hanya dari segi finansial, kehidupan pribadi bahkan sampai fisik dan kepercayaan diri. Tapi, apakah itu semua yang akan membuat kalian para pria akan meninggalkan pasangan kalian? 
Dan setelah mereka berusaha mati-matian untuk bisa bangkit dan kembali cemerlang tanpa kalian, tiba-tiba saja kalian datang dengan sebuah kata rindu, cinta atau taiatau apalah itu? Hanya cewek bodoh yang akan bangga dengan bualan kalian itu!

Ingatlah bahwa bukan fisik yang akan menjamin bertahannya hubungan kalian, tapi karakterlah yang akan berperan. MAu yang cantik, putih, lembut? Sana gih, pacaran sama SAGU, TEPUNG ATAU BEDAK !!! hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahah

Thursday, 28 January 2016

Jangan mau "dikalahkan" rasa !

Hei ladies.........

Sebagai wanita kita memang ditakdirkan memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Tidak bisa dipungkiri wanita lebih cenderung menggunakan perasaannya dibanding logika ketika melakukan sesuatu, termasuk ketika mengambil sebuah keputusan. Itulah mengapa dalam banyak kasus percintaan yang kebanyakan sakit adalah wanita karena mereka sangat sulit mengabaikan perasaan ketika disandingkan dengan logika. Ini memang dialami oleh sebagian besar wanita, akan tetapi ada beberapa darinya yang justru sanggup berdiri mengalahkan rasa mereka....dan saya satu diantaranya.

Entah darimana berasal, mungkin tepatnya sebelum saya mengenal hubungan yang begitu banyak melibatkan perasaan yang dalam. Semenjak saya mengenal cinta monyet di SD, SMP bahkan sampai pacaran ala remaja di SMA semuanya bukan karena alasan cinta atau semacamnya, semuanya karena "logika" yang terkait jabatan, nama baik, kepupoleran, ukuran fisik dan sebagainya. Bahkan saya ingat rela melepaskan hubungan yang benar-benar saya inginkan waktu SMA karena tidak ingin menjalani hubungan yang selalu diusik oleh senior yang menyukai pacarku, salah satu hal yang mencerminkan bagaimana logika saya selalu menjadi prioritas dibanding perasaan.

Times changes, saya memasuki usia yang bukan remaja awal lagi. Di masa perkuliahan saya bertemu dengan seseorang yang entah dia disebut cinta pertama atau bagaimana, saya sendiri bingung dengan deskripsi cinta pertama. Inilah pertama kalinya saya melepaskan logika dan selalu mengutamakan perasaan. Pria yang mendampingiku saat itu pun selalu memberikan doktrin bahwa sebenarnya perasaan adalah hal paling benar dibandingkan fikiran karena fikiran bisa berubah tapi perasaan tidak, jadi ikutilah apa yang dikatakan oleh perasaan. Saya yang entah dalam situasi seperti apa kemudian merubah pola fikir saya mulai detik itu.
Apa yang terjadi? Semua keadaan berubah, yang awalnya saya selalu memilih berakhir ketika hubungan agak sedikit mengalami gangguan, saat itu saya malah memilih bertahan di tengah hubungan yang sangat tidak sehat! Saya bertahan bahkan hampir 3 tahun, bertahan dan menguatkan hati bahwa perasaanlah yang terbenar tidak peduli bagaimana perasaan orang lain terluka, bahkan tidak peduli bagaimana kondisi sendiri sedang terluka, saya tetap maju mempertahankan perasaan yang kuat dan mengabaikan semua logika yang ada. Setiap kali hubungan saya berakhir yang ada hanyalah air mata yang rasanya tidak ingin berhenti, dunia seakan mau runtuh dan hal yang paling buruk adalah saya sebagai perempuan sampai harus mengemis untuk sekedar bisa kembali membina hubungan itu, menjadi seperti tidak mempunyai harga diri lagi.

Sampai pada akhirnya saya tiba pada titik dimana hati benar-benar terluka, saya tidak bisa memperbaiki semua keadaan apapun itu, saya menyerah, saya kalah. Tapi apa yang kemudian membuat saya bangkit? Saya memutar semua pola fikir saya, saya kembali menjadi perempuan seperti dulu yang selalu mengedepankan logika. Akhirnya dengan logika saya berhasil pulih dalam waktu yang singkat! Sesuatu yang sulit dibayangkan, saya sangat siap untuk keluar dari penjara, dari hubungan yang tidak sehat itu, dari semua kesalahan, keburukan dan keterpurukan, saya siap berpisah! Bahkan ketika keputusan itu lebih dulu dilontarkan olehnya, setidaknya saya bahagia terlepas dari itu semua, walaupun ada sedikit kekesalan karena hanya beda beberapa menit sebelum saya menekan tombol enter untuk mengirimkan pesan singkat dengan maksud yang sama, berpisah.

Setelah hari itu tidak ada penyesalan apapun tentang perpisahan, saya sudah kembali dengan semua kekuatan logikaku. Saya bahkan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk kembali, karena aapun itu kita sudah memilih berakhir.

Dan setelah hari itu saya dipertemukan dengan seseorang yang baik hatinya dan selalu membahagiakan. Saya sangat menginginkan hubungan itu, benar-benar sebuah hubungan yang ideal. Walaupun demikian, saya tetap dengan prinsip dan pola fikir bahwa sebesar apapun perasaan, logika harus berada beberapa langkah lebih maju didepannya. Dan berhasil! Walaupun pada akhirnya kami memilih berpisah, saya pun tidak menyesal karena semua dilakukan dengan logika. Dan logika juga menjadi alasan mengapa samai detik ini seribu ucapan sayang dan untaian kalimat untuk kembali selalu kutolak. Karena secara logika, kalau sebuah hubungan diibaratkan dua buah mobil yang berada di lajur, jalur dan arah yang berbeda tetapi tujuan akhirnya adalah titik yang sama maka sejauh apapun dan dari manapun mereka mengawali start tetap akan tiba di titik yang sama. Berbeda jika dua buah mobil tersebut sama-sama berada pada jalur, lajur dan arah yang sama tetapi titik tujuannya berbeda seberepa detikpun mereka berusaha bersama-sama mengawali start dengan kecepatan dan dari titik start yang sama persis, mereka tidak akan pernah tiba pada titik tujuan yang sama. Seperti itulah jika prinsip kita mungkin bisa sama tapi jika tujuan berbeda, its non sense...

Itulah alasan dari keputusan mutlak saya, logika. Hanya sang Maha pembolak-balik hatilah yang bisa menentukan akhir dari ini semua...
Pesannya adalah gunakanlah logika sebaik mungkin, bukan berarti perasaan itu salah, tetapi sering kali kita mengabaikan logika karena terlalu mementingkan perasaan yang membuat kita akhirnya salah dalam mengambil keputusan... so keep your logic and feel balance, girls :3