Hei ladies.........
Sebagai wanita kita memang ditakdirkan memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Tidak bisa dipungkiri wanita lebih cenderung menggunakan perasaannya dibanding logika ketika melakukan sesuatu, termasuk ketika mengambil sebuah keputusan. Itulah mengapa dalam banyak kasus percintaan yang kebanyakan sakit adalah wanita karena mereka sangat sulit mengabaikan perasaan ketika disandingkan dengan logika. Ini memang dialami oleh sebagian besar wanita, akan tetapi ada beberapa darinya yang justru sanggup berdiri mengalahkan rasa mereka....dan saya satu diantaranya.
Entah darimana berasal, mungkin tepatnya sebelum saya mengenal hubungan yang begitu banyak melibatkan perasaan yang dalam. Semenjak saya mengenal cinta monyet di SD, SMP bahkan sampai pacaran ala remaja di SMA semuanya bukan karena alasan cinta atau semacamnya, semuanya karena "logika" yang terkait jabatan, nama baik, kepupoleran, ukuran fisik dan sebagainya. Bahkan saya ingat rela melepaskan hubungan yang benar-benar saya inginkan waktu SMA karena tidak ingin menjalani hubungan yang selalu diusik oleh senior yang menyukai pacarku, salah satu hal yang mencerminkan bagaimana logika saya selalu menjadi prioritas dibanding perasaan.
Times changes, saya memasuki usia yang bukan remaja awal lagi. Di masa perkuliahan saya bertemu dengan seseorang yang entah dia disebut cinta pertama atau bagaimana, saya sendiri bingung dengan deskripsi cinta pertama. Inilah pertama kalinya saya melepaskan logika dan selalu mengutamakan perasaan. Pria yang mendampingiku saat itu pun selalu memberikan doktrin bahwa sebenarnya perasaan adalah hal paling benar dibandingkan fikiran karena fikiran bisa berubah tapi perasaan tidak, jadi ikutilah apa yang dikatakan oleh perasaan. Saya yang entah dalam situasi seperti apa kemudian merubah pola fikir saya mulai detik itu.
Apa yang terjadi? Semua keadaan berubah, yang awalnya saya selalu memilih berakhir ketika hubungan agak sedikit mengalami gangguan, saat itu saya malah memilih bertahan di tengah hubungan yang sangat tidak sehat! Saya bertahan bahkan hampir 3 tahun, bertahan dan menguatkan hati bahwa perasaanlah yang terbenar tidak peduli bagaimana perasaan orang lain terluka, bahkan tidak peduli bagaimana kondisi sendiri sedang terluka, saya tetap maju mempertahankan perasaan yang kuat dan mengabaikan semua logika yang ada. Setiap kali hubungan saya berakhir yang ada hanyalah air mata yang rasanya tidak ingin berhenti, dunia seakan mau runtuh dan hal yang paling buruk adalah saya sebagai perempuan sampai harus mengemis untuk sekedar bisa kembali membina hubungan itu, menjadi seperti tidak mempunyai harga diri lagi.
Sampai pada akhirnya saya tiba pada titik dimana hati benar-benar terluka, saya tidak bisa memperbaiki semua keadaan apapun itu, saya menyerah, saya kalah. Tapi apa yang kemudian membuat saya bangkit? Saya memutar semua pola fikir saya, saya kembali menjadi perempuan seperti dulu yang selalu mengedepankan logika. Akhirnya dengan logika saya berhasil pulih dalam waktu yang singkat! Sesuatu yang sulit dibayangkan, saya sangat siap untuk keluar dari penjara, dari hubungan yang tidak sehat itu, dari semua kesalahan, keburukan dan keterpurukan, saya siap berpisah! Bahkan ketika keputusan itu lebih dulu dilontarkan olehnya, setidaknya saya bahagia terlepas dari itu semua, walaupun ada sedikit kekesalan karena hanya beda beberapa menit sebelum saya menekan tombol enter untuk mengirimkan pesan singkat dengan maksud yang sama, berpisah.
Setelah hari itu tidak ada penyesalan apapun tentang perpisahan, saya sudah kembali dengan semua kekuatan logikaku. Saya bahkan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk kembali, karena aapun itu kita sudah memilih berakhir.
Dan setelah hari itu saya dipertemukan dengan seseorang yang baik hatinya dan selalu membahagiakan. Saya sangat menginginkan hubungan itu, benar-benar sebuah hubungan yang ideal. Walaupun demikian, saya tetap dengan prinsip dan pola fikir bahwa sebesar apapun perasaan, logika harus berada beberapa langkah lebih maju didepannya. Dan berhasil! Walaupun pada akhirnya kami memilih berpisah, saya pun tidak menyesal karena semua dilakukan dengan logika. Dan logika juga menjadi alasan mengapa samai detik ini seribu ucapan sayang dan untaian kalimat untuk kembali selalu kutolak. Karena secara logika, kalau sebuah hubungan diibaratkan dua buah mobil yang berada di lajur, jalur dan arah yang berbeda tetapi tujuan akhirnya adalah titik yang sama maka sejauh apapun dan dari manapun mereka mengawali start tetap akan tiba di titik yang sama. Berbeda jika dua buah mobil tersebut sama-sama berada pada jalur, lajur dan arah yang sama tetapi titik tujuannya berbeda seberepa detikpun mereka berusaha bersama-sama mengawali start dengan kecepatan dan dari titik start yang sama persis, mereka tidak akan pernah tiba pada titik tujuan yang sama. Seperti itulah jika prinsip kita mungkin bisa sama tapi jika tujuan berbeda, its non sense...
Itulah alasan dari keputusan mutlak saya, logika. Hanya sang Maha pembolak-balik hatilah yang bisa menentukan akhir dari ini semua...
Pesannya adalah gunakanlah logika sebaik mungkin, bukan berarti perasaan itu salah, tetapi sering kali kita mengabaikan logika karena terlalu mementingkan perasaan yang membuat kita akhirnya salah dalam mengambil keputusan... so keep your logic and feel balance, girls :3